Maskapai Penerbangan Murah Hadapi Tantangan Dapatkan Kepercayaan Penumpang


(TOKYO-Jepang) Peluncuran penerbangan murah (LCC) AirAsia Japan Co. untuk jalur domestik Jepang, pada hari Rabu (01/08), meningkatkan harapan bahwa bisnis baru ini dapat mendorong industri penerbangan dalam negeri, dan menarik perhatian penumpang baru baik dari dalam maupun luar Jepang.

Namun bagi Peach Aviation Ltd. dan Jetstar Japan Co., mempertahankan maskapai penerbangan murah di Jepang tergolong sulit, karena mereka harus memenangkan hati penumpang, melalui pelayanan umum seperti harga tiket yang bersaing, dan meminimalisir gangguan dalam jadwal penerbangan.

Meskipun populer di Eropa, AS dan negara besar lainnya, nampaknya maskapai penerbangan murah di Jepang hanya menyediakan anggaran terbatas, seperti menghindari pendaratan dalam biaya tinggi, dengan membatasi jumlah keberangkatan dari bandara besar seperti Haneda dan Narita.

Namun, langkah Bandara Narita untuk meningkatkan jumlah keberangkatanmenjadi 300,000 pada tahun fiskal 2014, menjadi titik balik bagi maskapai penerbangan murah untuk memulai bisnis ini di Jepang.

Peach Aviation, yang sebagian sahamnya dimiliki All Nippon Airways Co. (ANA), mengaku telah mengangkut 240,000 penumpang dalam tiga bulan, sejak pertama kali diluncurkan pada bulan Maret silam, dengan kapasitas penumpang sebesar 77 persen, yang 20 sampai 40 persennya, merupakan penumpang baru yang belum pernah menaiki pesawat.

Jika membandingkan tarif harga dengan bus antar prefektur, maskapai penerbangan murah tidak hanya mendorong industri penerbangan, namun juga industri perjalanan secara umum.

Profesor bidang Pariwisata dari Universitas JF Oberlin menyatakan, “Salah satu aspek positif dari munculnya maskapai penerbangan murah, ialah mendorong pelayanan transportasi lainnya, seperti kereta peluru shinkansen, dan menurunkan biaya perjalanan yang dirasa terlalu mahal bagi warga asing maupun warga Jepang.”

Perkembangan maskapai penerbangan murah di Jepang, bukanlah tanpa hambatan. Presiden Direktur Peach Aviation Inoue Shinichi bahkan mengaku seringkali mendapati keluhan dari sejumlah penumpang yang belum terbiasa dengan sistem maskapai penerbangan murah.

Namun, perbedaan antara maskapai penerbangan murah dengan maskapai penerbangan pada umumnya, menjadi jelas bagi warga Jepang, saat Peach Aviation membatalkan 13 penerbangan dalam 3 hari, sejak peluncurannya pada 28 Maret silam. Sedangkan 4 penerbangan dibatalkan Jetstar sejak diluncurkan pada 3 Juli silam.

Karena maskapai penerbangan murah hanya mengoperasikan jalur penerbangan yang terbatas, dan tidak memiliki pesawat cadangan untuk menangani hal ini, penundaan keberangkatan yang terjadi dapat memicu reaksi penundaan dan pembatalan penerbangan berantai.

Sementara kunci untuk membuat maskapai penerbangan murah sukses, terletak pada penumpang yang mengerti perbedaan antara maskapai penerbangan murah dengan maskapai penerbangan biasa, serta lebih fleksibel dalam membuat perubahan rencana.

Namun Presiden Direktur Jetstar Japan Suzuki Miyuki berpendapat usaha pemerintah Jepang untuk memperbolehkan warganya mengambil liburan panjang, dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu maskapai penerbangan murah dapat bertahan. (AN/KN)