Peraturan Diperlonggar, Ekspor Kopi ke Jepang Diperkirakan Kembali Naik
Selasa, 03 September 2013 00:42
(Jakarta) Ekspor kopi ke Jepang diproyeksi akan mengalami peningkatan hingga akhir tahun mendatang, terkait dengan diperlonggarnya peraturan impor oleh pemerintah Jepang yang diberlakukan sejak Juni silam.
"Tahun lalu ekspor kopi ke Jepang mencapai 51.438 ton. Dengan diturunkannya status pengawasan oleh pemerintah Jepang, kita optimis tahun 2013 ekspor kopi ke Jepang akan ada peningkatan menjadi lebih dari 60.000 ton atau naik hingga 16,64%," ujar Sekretaris Eksekutif Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), M. Kirom.
Sejak 30 Mei 2006 silam, pemerintah Jepang menerapkan ketentuan batas kandungan pestisida maksimum residue limit untuk semua produk pertanian. Berdasarkan aturan tersebut, seluruh produk kopi dari Indonesia terkena aturan wajib periksa jika ingin ekspor ke Jepang.
Mengetahui peraturan ini, sejumlah eksportir produk pertanian, termasuk kopi memilih untuk tidak mengirimkan kopinya ke Jepang, karena akan ada biaya tambahan untuk ketentuan wajib periksa ini. Jika kopi tersebut tidak memenuhi standar yang ditentukan maka akan dikembalikan ke Indonesia, dan eksportir akan menanggung kerugian dua kali.
Namun, sejak Juni 2013 peraturan tersebut berubah menjadi sistem cek secara acak, sehingga para eksportir lebih leluasa untuk mengekspor kopi ke Jepang. Perubahan status tersebut dibuat karena pemerintah Jepang menganggap kualitas biji kopi asal Indonesia sudah memenuhi standar.
“Ini tentunya menjadi kabar yang baik bagi para eksportir kopi atau produk pertanian lainnya, meskipun ekspor kopi secara keseluruhan mengalami penurunan pada kuartal I tahun ini,” ujar M. Kirom.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (Ditjen PPHP), ekspor kopi ke Jepang selama periode Januari-Mei 2013 hanya 16.181 ton, turun 16,15% dari 19.298 ton pada periode yang sama tahun lalu.
“Penurunan yang sama juga terjadi pada bulan Juli dan Agustus silam, diperkirakan karena saat puasa dan Idul Fitri, banyak importir yang tidak menghentikan sementara kegiatannya. Jumlahnya memang belum bisa dipastikan, saat ini kami masih proses datanya,” tutur M. Kirom.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
