Pertambangan Lesu, Penjualan Komatsu Anjlok

(Jakarta) Industri pertambangan yang mengalami kelesuan berpengaruh pada penurunan penjualan alat berat. Salah satunya dialami merek Komatsu. Sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini, penjualan alat beratnya hanya 2.770 unit, merosot 40,21% dibanding periode yang sama tahun lalu.


“Faktor utama penurunan penjualan alat berat karena berkurangnya permintaan alat berat dari sektor pertambangan dan perkebunan, yang dipengaruhi melemahnya harga komoditas, khususnya batu bara dan Crude Palm Oil (CPO),” ungkap Sara Loebis, Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk (UT), distributor Komatsu melalui email, Senin (02/09).


Secara total, sepanjang semester I ini PT United Tractors Tbk, mengalami penurunan pendapatan 19% dari Rp30,6 triliun pada 2012 menjadi Rp24,9 triliun.


Hingga kini sektor pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar penjualan Komatsu, yakni sebesar 48%, kemudian diikuti sektor konstruksi 23%, perkebunan 21% dan sisanya 8% berasal dari kehutanan. Saat ini Komatsu menjadi pemimpin pasar alat berat dengan pangsa pasar sebesar 41%.


Sara menambahkan, “Sektor konstruksi yang terkait pembangunan proyek infrastruktur di Indonesia diharapkan permintaannya akan terus tumbuh. Namun kenaikan permintaan dari sektor konstruksi secara keseluruhan diproyeksikan tidak dapat mengkompensasi penurunan permintaan alat berat dari sektor pertambangan dan perkebunan.” Persaingan di sektor ini juga diperkirakan akan sangat ketat karena adanya produk Korea dan Cina.


Sebagai salah satu strategi bersaing, perseroan melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan keunggulan kompetitif. Salah satunya bekerja sama dengan Komatsu meluncurkan produk baru, jenis excavator tipe kecil ( kelas 20 ton ) yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar, serta meningkatkan pelayanan dalam hal kecepatan dan ketepatan pelayanan dalam penyediaan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat.


Bukan saja sektor pertambangan, UT juga menghadapi tantangan di semester II berupa pelemahan nilai tukar Rupiah. Umumnya para pelanggan menggunakan fasilitas pembiayaan, baik dari bank ataupun leasing untuk pembelian alat berat sehingga pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US$, diprediksi akan berpengaruh kepada penurunan kemampuan daya beli pelanggan. Selain itu kenaikan suku bunga juga akan menyebabkan peningkatan biaya beban bunga yang akan ditanggung oleh pelanggan.