Sony Restrukturisasi Bisnis, Divisi VAIO di Jual

(Kyodo) Sony Corp yang berbasis di Tokyo dan sedang melakukan restrukturisasi bisnis, berencana menjual divisi komputer pribadi, melepas divisi televisi dan mem-PHK 5000 karyawan.


Rencananya, 5.000 karyawan diberhentikan hingga akhir tahun 2014. Dengan perincian, 1.500 karyawan di Jepang dan 3.500 karyawan sisanya dari Sony Global.


Pendapatan Sony kontras dengan produsen elektronik lainnya seperti Sharp dan Panasonic Corp, yang menunjukkan peningkatan sebagai akibat dari upaya restrukturisasi termasuk pemotongan biaya personil. Hal tersebut membantu perusahaan bangkit dari kerugian besar di tahun sebelumnya.


Sharp berharap membukukan keuntungan bersih sebesar 5 milliar yen di tahun ini, naik dibanding tahun sebelumnya yang mengalami kerugian sebanyak 543.35 miliar yen, sementara Panasonic memproyeksikan laba bersih 100 miliar yen, naik dari tahun sebelumnya yang mengalami kerugian 754.25 miliar yen.


Dibanding dengan perusahaan-perusahaan ini, perkembangan Sony dalam restrukturisasi telah tertinggal, walau mendapat laba dari penyusutan yen yang mendorong keuntungan penjualan luar negeri.


Meskipun melakukan upaya restrukturisasi, Sony menganggap sulit membuat bisnis elektroniknya menguntungkan di tahun ini, dan bisnis TV kemungkinan akan tetap berada dalam zona merah untuk 10 tahun kedepan.


Langkah restrukturisasi baru Sony dilakukan setelah Moody’s Japan K.K menurunkan tingkat kredit perusahaan ke status beresiko Ba1 dari Baa3 dalam Januari akhir karena prospek lesu bisnis TV dan personal komputer.


CEO Sony Kazuo Hirai pada konfrensi press di Tokyo menyatakan, dijualnya divisi PC Vaio merupakan keputusan yang sulit dan Sony memutuskan untuk fokus pada unit bisnis ponsel pintar dan komputer tablet.


Menurut analis kepala firma penelitian Gartner, Maita Kanae, Sony merupakan perusahaan perintis di pasar komputer pribadi ketika meluncurkan produk VAIO pada akhir 1990'an, dengan memperkenalkan PC tipis, ringan, dan canggih, yang membantu Sony membentangkan merknya.

Namun Sony tidak mampu mengikuti perubahan kebutuhan konsumen saat ini. Karena tidak mampu muncul dengan strategi yang tepat dalam bisnis PC, mengakhirinya akan bermanfaat untuk bisnis Sony secara keseluruhan.