Korban Luka Akibat Panas Ponsel Pintar Meningkat
Selasa, 25 Februari 2014 01:20
(Tokyo) Pusat Layanan Konsumen Nasional (Kokusen/NCAC) merilis peringatan pemanasan telepon seluler pintar, dipicu meningkatnya jumlah laporan konsumen yang mengalami cedera akibat terbakarnya ponsel yang mereka pakai.
Dalam rilis NCAC yang disampaikan Kamis (20/02) pekan silam, dipaparkan antara bulan April 2009 sampai Desember 2013 menerima 75 laporan konsumen yang mengalami luka bakar, dan pada periode bersamaan menerima 1,032 laporan ponsel pintar yang mengalami panas berlebihan.
Jumlah laporan terus naik setiap tahunnya, yang mencapai rekor di tahun fiskal 2012 sebanyak 523 laporan, dan untuk tahun fiskal 2013, yang berakhir bulan Maret mendatang, diperkirakan jumlahnya semakin banyak.
NCAC menyatakan ponsel pintar beresiko lebih besar mengalami panas berlebih dibanding jenis ponsel lainnya, karena mengkonsumsi lebih banyak listrik dan baterainya lebih sering diisi ulang.
Selanjutnya disarankan kepada konsumen untuk berhati-hati saat mengisi baterai, dan meminta Asosiasi Produsen Telekomunikasi Seluler untuk melakukan kampanye agar konsumen sadar terhadap resiko pemanasan berlebih dan mengembangkan ponsel pintar yang lebih aman.
Dari berbagai kasus yang dilaporkan, seorang wanita asal Prefektur Osaka berusia sekitar 20 tahun mengalami luka bakar ringan pada bagian pipinya saat menggunakan ponsel pintar dengan panas berlebih sekitar delapan menit.
Selain itu, seorang pria yang menetap di Prefektur Saitama berusia 50 tahunan melaporkan dirinya mencharger ponsel pintarnya melalui komputer pribadi, dan selanjutnya tidur, namun terbangun ketika mencium bau benda terbakar, dan mendapati chargernya meleleh.
Sementara untuk Indonesia, kasus panas berlebih atau kecelakaan akibat ponsel pintar belum banyak terdata, ungkap Sularsih, anggota pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, yang juga menjadi koordinator sektor telekomunikasi.
“Tiga tahun terakhir jumlah penjualan ponsel pintar terus meningkat di Indonesia, namun belum ada pengaduan langsung yang disampaikan kepada YKLI terkait kecelakaan yang disebabkan akibat penggunaan, kemungkinan ini disebabkan kebiasaan masyarakat Indonesia jarang mengadukan keluhan produk yang dibelinya, atau mereka tidak tahu kemana harus mengadu,” ujar Sularsih.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
