Gubernur Wakayama Beri Kuliah Umum Tsunami di Binus

(Jakarta) Nisaka Yoshinobu, Gubernur Prefektur Wakayama, menyampaikan kuliah umum mengenai upaya mitigasi jika terjadi bencana seperti gempa bumi, dan tsunami di Universitas Bina Nusantara, Jakarta Barat Senin (18/04), serta menjelaskan program yang telah disiapkan Prefektur Wakayama dalam menghadapi bencana kepada sekitar 400 mahasiswa.


Prefektur Wakayama menargetkan “zero victims” bila terjadi bencana, dan untuk itu langkah evakuasi dilaksanakan dalam tiga tahap derajat keselamatan, yang menjadi referensi bagi warga guna memutuskan rute evakuasi.


Selain itu, Prefektur Wakayama setiap tahunnya menyelenggarakan latihan tsunami, dan juga membuat aplikasi ponsel pintar yang menyediakan layanan informasi dan jarak yang ditempuh untuk menuju lokasi penampungan.


“Dalam Prefektur Wakayama, pelajaran mengenai persiapan menghadapi bencana sudah dilaksanakan mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA,” ujar Nisaka.


Lebih lanjut Nisaka juga memaparkan mengenai sejumlah langkah kunci dalam penanganan situasi pasca tsunami, seperti penyiaran informasi yang akurat, dan sistem peringatan dini bencana gempa dan tsunami berjarak 100 kilometer dari tepi pantai, yang ditujukan untuk mengirimkan informasi terkini prediksi waktu kedatangan dan ketinggian ombak tsunami.


Sistim penyiaran itu juga juga menyampaikan informasi melalui berbagai media seperti surat elektronik dan radio. Sementara jika lokasi evakuasi berada didaerah yang sulit dan alarm tidak memadai maka dilakukan penguatan tepian pantai dan juga melakukan relokasi kawasan hunian.


Intensnya upaya yang dilakukan Pemerintah Prefektur Wakayama dalam menangani bencana tsunami, diawali oleh kejadian pada jaman Edo, yakni sekitar tahun 1854. Ketika itu Hamaguchi Goryo yang tinggal di kota Hirokawa, melihat gelombang tsunami yang mengarah ke pantai, langsung membakar tumpukan padi disekitarnya, dengan tujuan memberi peringatan kepada penduduk lainnya untuk segera menyelamatkan diri. Akibat dari aksinya itu, banyak penduduk disekitar Semenanjung Kii selamat dari amukan gelombang tsunami.


Selanjutnya Pemerintah Jepang mengusulkan adanya penetapan hari khusus terkait tsunami, dan pada bulan Desember tahun 2015, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa memutuskan aksi Hamaguchi Goryo sebagai asal mula penetapan Hari Tsunami Dunia atau Sekai Tsunami no Hi.