Kabinet Abe Berikan Subsidi Untuk Pemulihan Kumamoto
Senin, 25 April 2016 17:17
(Tokyo) Pemerintahan Perdana Menteri Abe Shinzo menetapkan gempa kuat yang mengguncang Prefektur Kumamoto sejak tanggal 14 April sebagai “bencana dengan keparahan ekstrim" dan bagi komunitas yang terkena dampak akan menerima subsidi pemerintah yang lebih tinggi untuk membantu upaya pemulihan.
Dengan penetapan itu, pemerintah pusat dapat memberikan bantuan keuangan untuk kota yang dilanda gempa di Prefektur Kumamoto dan Oita untuk pembangunan kembali sarana infrastruktur seperti jalan dan sungai.
Pemerintah akan membiayai sekitar 80 persen dari total biaya rekonstruksi jalan dan tanggul, dan sekitar 90 persen dari pengeluaran untuk pembangunan kembali fasilitas pertanian dan pemulihan lahan pertanian dengan biaya pemulihan keseluruhan untuk jalan, tanggul dan fasilitas pertanian diperkirakan mencapai ¥ 286.1 Miliar.
Sekretaris Kabinet Suga Yoshihide dalam konferensi pers Senin (25/04) menyatakan, ”Pemerintah telah memutuskan untuk menyetujui subsidi lebih tinggi untuk melakukan pemulihan segera di daerah bencana.”
Guna mempercepat upaya rekonstruksi, Partai Liberal Demokrat berencana mengajukan rancangan anggaran tambahan tahun fiskal 2016 kepada parlemen, kemungkinan pada 13 Mei, untuk pemulihan wilayah yang dilanda gempa.
Anggaran tambahan diperkirakan berjumlah beberapa ratus miliar yen, dan pemerintah pusat kemungkinan akan menerbitkan obligasi untuk menutupi defisit guna membiayai pengeluaran darurat.
Selain gempa di Prefektur Kumamoto, dan tsunami di daerah Tohoku pada bulan Maret 2011 dan tanah longsor di Hiroshima pada tahun 2014 juga ditetapkan sebagai bencana dengan keparahan ekstrim.
Sejak terjadinya gempa berkekuatan 6,5 skala richter di Kumamoto pada tanggal 14 April, Badan Meteorologi Jepang mencatat sebanyak 884 gempa susulan dengan guncangan yang tidak besar.
Hingga Minggu (24/04) tercatat sebanyak 48 orang telah meninggal akibat gempa dan 1.350 terluka.Selain itu, rangkaian gempa susulan juga menyebabkan tanah longsor dan banyak bangunan yang runtuh.
Sampai Senin (25/04) Pukul 9 pagi, sekitar 53.000 orang masih tinggal di sejumlah lokasi pengungsian di Prefektur Kumamoto.
Sementara Pemerintah Prefektur mengumumkan sebanyak 35 orang, sebagian besar perempuan, telah dirawat di rumah sakit karena penyumbatan pembuluh darah, juga dikenal sebagai sindrom kelas ekonomi, yakni timbulnya gumpalan darah karena tidak bergerak dalam kondisi duduk untukjangka waktu yang lama. Salah satu korban yakni seorang wanita berusia 51 tahun, meninggal pada 18 April setelah berlindung di dalam mobilnya.
Pengumuman ini merupakan pertama kalinya Pemerintah Prefektur Kumamoto mengungkapkan jumlah total orang yang menderita kondisi tersebut. Angka itu didapat berdasarkan data dari 20 rumah sakit dan lembaga medis lainnya.
Pemerintah prefektur juga mengatakan 12 orang diyakini telah meninggal karena masalah medis yang dipicu stres dan kelelahan akibat mengungsi setelah terjadinya gempa.
| Selanjutnya > |
|---|

