Garam Organik Antar Produsen Bali Rambah Pasar Jepang

(Bali-Indonesia) Garam organik berbentuk piramida produksi PT Neo Logis Surabaya di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, berhasil merambah pasar Jepang sejak tahun 2007.

Made Widyana, Manager PT Neo Logis Surabaya mengungkapkan, salah satu alasan garam merek Laut Bali ini populer di Jepang karena proses pembuatannya bebas bahan kimia dan melewati proses filterisasi.

“Negara lain khususnya Jepang, sangat mementingkan bahan makanan yang organik. Garam kami memang tidak dicampur yodium, sehingga kandungan yodium alaminya masih di bawah 20 ppn. Pembuatan garam kami juga tidak sekedar dikeringkan di tanah, tapi juga melewati proses pembersihan yang dilakukan secara manual, bukan dengan mesin”, ujar Made.

Dengan takaran yodium kurang dari 20 ppn, Made mengaku sulit masuk ke pasar dalam negeri terutama di supermarket, karena masih kurang dari standar, yakni 30 ppn. Namun, ternyata di Jepang, hal ini bukan masalah, karena termasuk produk organik tanpa campuran bahan kimia.

“Awalnya dari wisatawan Jepang yang datang ke Bali, lalu membeli garam kami. Semakin lama semakin banyak permintaan dari Jepang, di Jakarta malah kami baru mulai jual sejak 2 tahun lalu”, ungkap Made.

Ekspor garam Laut Bali ke Jepang pada tahun 2010 sebanyak 2 ton, dan mengalami peningkatan di akhir tahun 2011 menjadi 10 ton. Di sisi lain, penjualan dalam negeri khususnya Jakarta hanya sebanyak 2 ton setahun, sementara pada tahun 2012 hingga bulan Oktober, baru terjual 1 ton.

“Pasar kami memang luar negeri, khususnya Jepang. Kami memperkirakan tahun ini ekspor garam ke Jepang masih stabil, sekitar 10 ton, tapi kami optimis tahun depan dapat meningkat, melihat banyaknya pembeli dan nama garam kami yang sudah cukup dikenal di Jepang”, tutur Made.

Garam berbentuk piramida hasil produksi PT Neo Logis Surabaya dihargai Rp.220,000/kilo, bentuk kotak dan garam halus seharga Rp.99,000/kilo, sementara original yang biasa digunakan untuk memasak seharga Rp.61,600/kilo.

Hingga sekarang, NLS telah mengekspor garam ke berbagai negara, seperti Hongkong, Autralia, dan Jepang, sedangkan di dalam negeri, hanya dijual di Bali dan Jakarta, salah satunya supermarket Jepang, Papaya. (AV/MI)