JF Fasilitasi Sharing Antisipasi Kasus Kekerasan di Sekolah
Kamis, 22 Agustus 2013 00:39
(Jakarta) Kasus kekerasan (bullying) yang terjadi di sekolah menjadi semakin serius. Di Indonesia, kasus ini kerap terjadi, demikian halnya dengan Jepang. Hal ini mendorong JF Jakarta menyelenggarakan dialog antara Indonesia dan Jepang, untuk saling belajar cara mengantisipasi terjadinya bullying khususnya pada siswa.
"Sekitar 100.000 kasus bisa terjadi setiap tahunnya. Di Prefektur Kagoshima, misalnya ada 397 kasus pada 2011 meningkat menjadi 30.877 pada 2012," ungkap Matsuura Makoto, Founder Cobon, organisasi non profit (NPO) yang fokus membangun kepedulian pada anak-anak, dalam acara Japan-Indonesia Dialogue How Can We Prevent Violence in School di Japan Foundation Jakarta, Selasa (20/08).
Di Jepang, bullying telah menjadi masalah serius. Sayangnya, kata Matsuura sebagian besar orang yang melihat tindakan ini tidak berbuat apa-apa. Bahkan orang tua kadang menganggap tidak terjadi apa-apa atau sikap yang disebut koto nakare shugi, meski anak mereka menjadi korban.
Sejumlah upaya pun dilakukan pemerintah Jepang untuk mencegah kasus ini semakin merebak. "Pemerintah lokal ada yang membuat modul khusus untuk guru yang isinya terkait dengan cara mencegah bullying di antara murid-murid. Ada juga walikota yang membuka layanan keluhan bagi korban bullying," ungkap Matsuura.
Selain pemerintah, individu pun ikut peduli terkait dengan hal ini. Kanamori Toshiro, seorang guru SD di Kanazawa, Prefektur Ishikawa, menerapkan metode keterbukaan kepada muridnya untuk mengatasi bullying.
Sementara menurut Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, cara-cara di Jepang cukup baik untuk dicontoh di Indonesia. Menurutnya, saat ini di Indonesia yang menjadi perhatian pemerintah hanya terkait pada kekerasan fisik semata. Korban kekerasan verbal ataupun secara psikis belum terlalu diperhatikan.
Pria yang juga dikenal dengan nama Gus Sholah, adik kandung mantan presiden Gus Dur, ini bercerita jika di pesantren yang dibimbingnya juga terjadi bullying terutama pengeroyokan. Namun frekuensinya tidak terlalu kerap. "Pernah terjadi kasus pengeroyokan 5 anak, namun kemudian pesantren mengambil tindakan menghukum mereka. Hukuman ini juga bisa membuat jera anak lain agar tidak melakukan bully," ujarnya.
Selain itu untuk mencegah praktik bullying, ditanamkan pemahaman mengenai targhib dan tarhib (reward dan punishment) kepada santri. Targhib untuk memotivasi melajukan kebaikan, sementara tarhib sebagai metode untuk memberikan hukuman kepada anak yang tidak mampu lagi dihadapi dengan cara lunak. Sementara itu, melalui cara pendalaman agama yang tidak hanya diberikan di kelas dasar, yang mengajarkan jika Tuhan yang memiliki kasih sayang, maka juga harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhir acara, Ogawa Tadashi, Director General Japan Foundation, mengungkapkan jika bullying adalah fenomena universal. "Dengan dialog ini masing-masing dapat saling mempelajari bagaimana mengatasi tindak kekerasan di sekolah," tuturnya.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
| BERITA SOSIAL & PENDIDIKAN LAINNYA |
