Ratusan Relawan Berdatangan ke Kumamoto

(Kumamoto) Ratusan relawan berdatangan ke Prefektur Kumamoto dan prefektur di sekitarnya mulai Jumat (22/04) guna memberikan bantuan bagi ribuan orang yang membutuhkan bantuan, khususnya di sejumlah lokasi paling parah terkena dampak gempa.


Sekitar 700 orang relawan telah masuk Prefektur Kumamoto pada Jumat pagi, yang merupakan gelombang pertama dari relawan yang akan diterima Pemerintah Kota Kumamoto, yang kekurangan personil guna menangani kesehatan para pengungsi di sejumlah pusat evakuasi.


Para relawan diharapkan membantu pendistribusian makanan dan pasokan lainnya di pusat-pusat evakuasi mulai Jumat dan setelahnya membantu membersihkan rumah.


Saat ini diperkirakan sekitar 50.000 orang masih bertahan di lokasi pengungsian satu pekan setelah terjadinya gempa berkekuatan 6,5 skala richter pada Kamis (14/04), yang diikuti gempa 7.3 SR pada Sabtu (16/04).


Kota Mashiki, yang paling parah terkena dampak gempa, Jumat pagi menerima sekitar 200 relawan. Namun karena hampir sebagian besar bangunan hunian rata dengan tanah atau rusak, maka fokus pekerjaannya hanya dibatasi disekitar lokasi pengungsian.


Sementara Pasukan Bela Diri dan Kepolisian mulai Jumat petang kembali melakukan pencarian dua orang yang dilaporkan hilang di desa Minamiaso, setelah penghentian operasi pencarian sehari sebelumnya karena ada kekhawatiran terjadinya tanah longsor di tengah hujan lebat.


Perdana Menteri Abe Shinzo berencana mengunjungi wilayah yang terkena gempa di Kumamoto, Sabtu (23/04), ungkap Yamaguchi Natsuo, Ketua Umum New Komeito, koalisi junior Partai Liberal Demokrat Liberal yang dipimpin Abe, kepada wartawan setelah pertemuan mereka di kantor Perdana Menteri.


Pasca terjadinya gempa Kumamoto pada Kamis malam, Badan Meteorologi Jepang mencatat lebih dari 790 guncangan seismik terdeteksi, mulai dari kategori kecil hingga kuat.


Satu tim peneliti yang dipimpin Profesor Yasuda Susumu dari Universitas Tokyo Denki, melakukan survei di kota Kumamoto dan Mashiki setelah terjadinya gempa, memaparkan telah menemukan puluhan kasus pencairan tanah di sepanjang sungai dan di berbagai lokasi lain dalam kawasan itu.


Dalam beberapa kasus, bangunan yang tersisa posisinya menjadi miring atau pondasinya terlihat padat seperti sebelumnya, tapi tanah dibawahnya terendam air, yang akan mengalir jika terjadi guncangan keras.