Update Terakhir: 17:40 - 28 Mar 2012.

Perawat Indonesia Dapat Tempat Dihati Pasien Rumah Sakit di Jepang

Penilaian Pengguna: / 4
JelekBagus 

(Tokyo-Jepang) "Cepat cari perawat," teriak salah seorang pengunjung rumah sakit kepada Robi'ah Al Adawiyah Manaff, sewaktu dia hendak membantu salah seorang pasien jatuh yang ingin bangkit kembali.

Sebetulnya pengunjung itu tidak perlu berteriak seperti itu, karena Robi'ah sendiri adalah perawat.

Situasi diatas mungkin mengindikasikan masih adanya prasangka terhadap para perawat asing di Jepang. Namun, Robi'ah (29 tahun), dan koleganya Maria Fransiska (28 tahun) juga dari Indonesia, dengan sikapnya yang ramah dan bersahabat tampaknya telah berhasil mendapat tempat dihati para pasien Rumah Sakit Chiba Kashiwa Tanaka, di Prefektur Chiba.

Keduanya juga tampaknya telah mendapat kepercayaan dari pimpinan rumah sakit, khususnya atas keahlian keperawatan dan dedikasi terhadap pekerjaan.

"Keduanya telah bekerja sebagai perawat profesional di Indonesia, jadi mereka punya keahlian yang memadai," ujar Hagiwara Yuko, Wakil Kepala Bagian Perawat di RS Chiba Kashiwa Tanaka. "Meski ada perbedaan cara antara Jepang dan Indonesia, tapi kami bisa menyerahkan sebagian besar pekerjaan kepada mereka."

Robi'ah dan Maria datang ke Jepang pada tahun 2008, sebagai bagian dari program Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang (IJEPA) bidang kesehatan, yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan staf bidang kesehatan di Jepang.

Selain dari Indonesia, Jepang juga melakukan program serupa dengan Filipina.

Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 700 warga Indonesia dan Filipina mengikuti ujian nasional untuk mendapatkan sertifikat perawat di Jepang, namun sejauh ini hanya 19 orang berhasil lulus, (16 asal Indonesia dan 3 asal Filipina) termasuk Robi'ah dan Maria, yang lulus pada tahun 2011, setelah mengikuti ujian tiga kali.

Keduanya bertanggung jawab terhadap para pasien di bagian Penyakit Dalam, dan melakukan tugas-tugas keperawatan seperti memeriksa kondisi pasien tanpa bantuan staf Jepang.

Sebagian besar pasien yang ditangani kedua perawat adalah para lanjut usia.

"Mereka hangat," ujar Robi'ah.

Sementara Maria memberikan dorongan sewaktu bertemu dengan para pasien.

"Mereka semua berpikiran muda. Hasrat hidupnya sangat tinggi, itu sangat mengesankan," ungkapnya. Bahkan salah seorang pasien meminta untuk diajari bahasa Indonesia, agar pikirannya bisa tetap aktif.

Maria berharap bisa menjadi perintis bagi para calon perawat asing di Jepang. "Kami akan sangat senang, jika kerja keras yang dilakukan mendapat apresiasi, dan lebih banyak rumah sakit yang menerima perawat asing."

Sedangkan Robi'ah menyatakan,"Di masa depan, saya ingin bekerja di rumah sakit di Indonesia dengan memanfaatkan pengalaman saat ini." (KN/Arry)