Sakura Restaurant, Kenalkan Budaya Jepang Pada Warga Lebak Bulus
Senin, 26 November 2012 00:46
(Jakarta-Indonesia) Sakura Restaurant, Sabtu (24/11), menggelar “Sakura Festival”, acara untuk memperkenalkan kebudayaan Jepang khususnya kuliner, bagi masyarakat daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Acara yang dimulai sejak pukul 9 pagi ini dihadiri komunitas Gereja Paroki St. Stefanus Cilandak, pengunjung restoran Sakura Restaurant, serta wakil dari perusahaan-perusahaan di sekitar wilayah TB Simatupang, seperti PT Trakindo Utama, dan PT JGC Indonesia.
Selain memperkenalkan kebudayaan Jepang melalui stand-stand yang disediakan di sisi tenda tempat berlangsungnya acara, seperti Yukata, permainan kendama, origami, dan manga, para anggota komunitas juga diundang mengikuti lomba makan sushi dan ramen tanpa dipungut biaya pendaftaran.
“Tahun lalu juga pernah digelar lomba makan dan buat sushi tapi hanya bagi media. Tahun ini, kami sengaja menggelar untuk umum, yang diharapkan dapat mempererat kedekatan kultural Jepang, khususnya kuliner serta rasa akrab para peserta”, ungkap Direktur PT. Grandpuri Permai, perusahaan pengelola Sakura Japanese Restaurant, Adhi I. Anondo.
Di sisi lain, Sakura Festival nampaknya juga menjadi tempat berkumpul dan bersenang-senang di akhir pekan. Pasalnya, sejumlah peserta sudah saling kenal satu sama lain. Seperti Florensia Dian (33 tahun), jemaat gereja St. Stefanus Cilandak yang ikut serta acara lomba makan sushi.
“Saya senang karena bisa tahu kebudayaan Jepang sambil makan gratis. Dari gereja kami juga ada sekitar 30 anggota yang ikut acara, dan yang tadinya tidak kenal jadi bisa berkenalan di sini. Saya juga sempat bertemu teman lama”, ungkapnya.
Dian juga mengungkapkan harapannya agar acara seperti ini digelar setiap tahun, guna lebih memperkenalkan Jepang kepada masyarakat Indonesia. “Mudah-mudahan acara seperti ini diselenggarakan setiap tahun, tapi kalau bisa lebih banyak ditonjolkan budaya Jepangnya, misalnya pertunjukkan dari orang Jepang langsung sehingga kami jadi bisa lebih jauh mengenal Jepang. Tapi kalau bisa digelarnya di tempat yang lebih luas, biar tidak desak-desakkan”, tuturnya.
Meski ruangan yang disediakan terlihat cukup padat dipenuhi ratusan pengunjung, Adhi menyatakan akan tetap menyelenggarakan acara serupa di tempat yang sama tahun depan, dengan mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan.
Sakura Festival yang baru pertama kali digelar Sakura Restaurant diselenggarakan selama dua hari, yakni 24 dan 25 November, berlokasi di area parkir gerainya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Pada hari pertama, acara difokuskan untuk warga Indonesia ditambah lomba membuat maki sushi (sushi gulung) yang diikuti 18 peserta alumni Cooking Class Sakura Restaurant, sementara pada hari kedua ditunjukkan untuk komunitas Jepang d Jakarta.
“Kami mengharapkan, peserta dapat langsung mencoba sendiri hal-hal yang berbau Jepang, tidak hanya melihat saja, tapi juga mempraktekkan”, ujar Adhi. (AV)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|