Pelajar SMA Jabodetabek Adu Cerdas Cermat Bahasa Jepang di UNJ

(JAKARTA-Indonesia) Puluhan pelajar SMA di Jabodetabek, Sabtu (24/11), mengadu kemampuan berbahasa Jepang dalam lomba cerdas cermat, yang diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan festival kebudayaan Jiyuu Matsuri di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).


Dalam lomba cerdas cermat tingkat SMA yang pertama kalinya diselenggarakan Himpunanan Mahasiswa Bahasa Jepang UNJ ini, lebih dari 70 pelajar dari 26 SMA di Jabodetabek, ditantang untuk menjawab berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan bahasa, budaya, hingga peristiwa terkini yang terjadi di Jepang.


Hampir semua pertanyaan dijawab dengan tepat oleh para siswa, sehingga nilai yang diperoleh tidak terpaut jauh antara satu grup dengan grup lainnya. Sorak sorai para pendukung juga menambah semangat para peserta untuk adu cepat menjawab pertanyaan yang diajukan.


Setelah lebih dari 4 jam, akhirnya diperoleh tiga grup yang menjadi juara, yakni SMAN 71 Jakarta sebagai Juara 1, SMAN 5 Depok juara 2, dan SMAN 33 Jakarta juara 3.


“Saya benar-benar terkejut dengan pendidikan bahasa Jepang tingkat SMA sekarang. Hampir semua pertanyaan dijawab dengan benar,” ujar Nia Setiawati, salah seorang Dosen Bahasa Jepang yang menjadi juri cerdas cermat. “Saya rasa pendidikan bahasa Jepang di SMA untuk saat ini telah ada di jalur yang benar, selanjutnya tinggal meningkatkan kualitas saja.”


Nia juga mengungkapkan kemudahan mengakses berbagai media, seperti manga, anime, atau dorama, menjadi nilai tambah para pelajar SMA saat ini, untuk mempelajari bahasa Jepang.


“Jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, jelas pelajar SMA sekarang perkembangan belajarnya lebih cepat karena banyak informasi yang mereka serap dari berbagai media,” ujar Nia.


Sementara, Annisa Dwi Putri, R. Nada Nurulhana W, dan Luthfi Kurniawan, dari SMAN 71 Jakarta, yang berhasil menjadi juara pertama dalam lomba cerdas cermat di UNJ, mengungkapkan rasa senang sekaligus tidak percaya atas kemenangan mereka.


“Senang sekali bisa bawa nama baik sekolah, benar-benar ga sangka bisa jadi juara, karena tadi banyak salah jawab pertanyaan,” ujar Anisa.


Saat ditanya mengenai pertanyaan yang diajukan dalam cerdas cermat, Luthfi mengaku pertanyaan seputar budaya merupakan yang paling sulit untuk dijawab.


“Untuk bahasa Jepang, pertanyaannya sesuai dengan yang kami pelajari di sekolah, tapi kalau pertanyaan yang berhubungan dengan budaya tergolong susah, karena kami tidak mempelajarinya di sekolah,” ujar Luthfi. “Kalaupun bisa menjawab pertanyaan budaya karena pernah baca di manga atau nonton anime.”


Selain lomba cerdas cermat, di hari yang sama, Jiyuu Matsuri juga menyelenggarakan lomba pidato tingkat SMA Jabodetabek dan lomba Shodo, serta sejumlah workshop seperti washi dan shogi, dengan bekerjasama dengan Japan Foundation, Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, dan Nippon Club Universitas Binus.


“Di hari pertama memang sengaja lebih diisi dengan kegiatan pendidikan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan para pelajar SMA mengenai bahasa dan budaya Jepang,” ujar Ketua Panitia Penyelenggara Jiyuu Matsuri 2012, Arin. “Sementara di hari kedua, kami memang lebih menyuguhkan pertunjukkan hiburan, mulai dari band hingga dance cover. Penyerahan hadiah juga dilaksanakan di hari kedua.” (Nova)