Inventarisasi Produk, Kunci Sukses Aeon
Kamis, 21 Februari 2013 00:19
(JAKARTA) Pertumbuhan kelas menengah di Indonesia dengan daya beli tinggi turut menarik peritel besar Jepang, Aeon untuk mendirikan pusat perbelanjaan pada tahun ini. Berbicara tentang perusahaan ini tak bisa dilepaskan dari presidennya, Okada Motoya.
Selepas lulus dari Universitas Waseda, Okada melanjutkan kuliah ke Babson College, AS dan lulus dengan gelar MBA. Sepulang dari Amerika Okada bergabung ke Aeon yang waktu itu masih bernama Jusco (Japan United Store Company).
Sebagai pewaris perusahaan dari ayahnya Okada Takuya, Okada Motoya mengembangkan Aeon menjadi peritel besar di Jepang.
Latar belakang pendidikan Amerika yang dimiliki Okada membuatnya tidak anti bekerjasama dengan barat. Aeon merupakan sedikit dari peritel yang mau mengambil konsultan asing. Bekerjasama dengan Kurt Salomon Associates (KSA), Okada merancang ulang bisnis dan membuat Aeon mampu menghadapi serbuan peritel global dari AS dan Eropa yang berlomba masuk ke Jepang.
Okada dengan konsultannya menerapkan teknologi informasi untuk pengaturan inventaris barang yang dijual di toko. Kesuksesan terbesarnya berasal dari manajemen persediaan yang bagus. Hal ini adalah kelemahan kebanyakan peritel Jepang. Mayoritas peritel tak mengetahui persediaan yang ada di suatu gerai, barang yang rusak, atau bahkan yang dicuri. Biaya persediaan adalah biaya utama bagi peritel, jika biaya operasional bisa dipangkas akan menghemat dana besar.
Software yang digunakan memungkinkan pengaturan barang, sehingga dapat menganalisis barang apa yang harus dipajang, lokasi yang pas dan berapa banyak yang perlu ada di display. Analisis semacam ini tak dimiliki peritel tradisional.
Strategi lain yang diterapkan adalah melakukan model pembelian secara langsung dan berusaha memangkas biaya rantai pasokan semaksimal mungkin.
Aeon mampu berhasil karena memiliki tujuan yang sangat jelas untuk penerapan sistem, juga memiliki misi yang tepat, dan menetapkan jadwal yang ketat. Ternyata yang menentukan dalam persaingan bisnis ritel adalah sistem yang baik dan efisiensi biaya.
November silam, Aeon mengakuisisi Carrefour Malaysia dengan nilai 250 juta euro. Hypermarket dan supermarket dengan nama Carrefour di Malaysia akan berganti nama menjadi AEON Big tak lama lagi. Akuisisi Carrefour Malaysia akan membuat AEON menjadi peritel terbesar di negara ini. Pasca akuisisi Aeon menyatakan akan membuka 100 gerai dengan berbagai format di Malaysia pada 2012.
Perusahaan yang berpusat di Chiba ini telah memiliki 222 pusat perbelanjaan, 590 general merchandise store, 1537 toko dan menghasilkan keuntungan hingga 5,2 triliun yen. Secara global Aeon beroperasi di Korea Selatan, Cina, Taiwan, India, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Kamboja
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
>> Pencarian
Tabloid
>> Memo Bisnis
| Hino Relokasi Kantor Ke Balikpapan 26/02/2013 |
| artikel lainnya |
>> Sosial & Pendidikan
| Japan Fair UNSADA Suguhkan Workshop Nihon Ryori 25/02/2013 |
| artikel lainnya |
>> Gaya Hidup & Hiburan
Karir
| QA Manager ~ PT Megah Sembada Industries 23/02/2013 |
| lowongan lainnya |
