Pusat Kanker Jepang Tawarkan Pengobatan Rendah Resiko
Selasa, 26 Februari 2013 00:19
(JAKARTA) Besarnya resiko atau efek samping yang diterima pasien melalui kemoterapi, mengakibatkan tidak sedikit penderita kanker lebih memilih untuk menyerah atau pasrah terhadap penyakit yang menjadi penyebab kematian nomor 2 di dunia ini.
Namun, hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan lagi, karena Pusat Kanker Nasional Jepang kini menawarkan pengobatan kanker melalui Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT) dengan tingkat resiko yang lebih kecil dibandingkan kemoterapi biasa.
“IMRT merupakan generasi baru dalam ilmu pengobatan kanker. IMRT memiliki kemampuan khusus mendeteksi kanker di posisi sulit sekali pun, dan diatur sedemikian rupa agar memancarkan sinar di tempat kanker berada, tanpa mengenai bagian tubuh lain yang sehat,” ujar Tsuchiya Ryosuke dari Japanese Foundation for Cancer Research, Sabtu (23/02), di sela-sela “Medical Excellence Japan Seminar Indonesia-Japan Medical Collaboration” di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta.
Tsuchiya menambahkan, IMRT sangat cocok diterapkan pada penderita kanker prostat atau payudara, yang sulit dideteksi posisi dan ukurannya.
“Dari berbagai kunjungan yang saya lakukan, saya mengetahui jumlah penderita kanker payudara di Indonesia cukup banyak, dan menjadi penyebab kematian paling sering,” ujar mantan Direktur Utama Pusat Kanker Nasional ini. “Saya pikir, penderita kanker di Indonesia harus mencoba pengobatan baru ini, untuk mengurangi jumlah kematian akibat kanker.”
Lulusan Jurusan Ilmu Medis dari Universitas Keio tahun 1970 ini mengungkapkan, tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia seharusnya dapat menjadi pemicu bagi pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan yang masih minim.
“50 tahun yang lalu, kondisi Jepang sama seperti Indonesia sekarang. Saya yakin jika pendidikan di bidang kesehatan ditingkatkan dari sekarang, ditambah dengan pertumbuhan ekonomi pesat, mungkin waktu yang dibutuhkan Indonesia lebih cepat dibandingkan Jepang untuk menjadi seperti ini,” ujar Tsuchiya.
Sementara Tanaka Kouichi, General director Kobe International Frontier Medical Center Project Management, yang diwawancarai secara terpisah mengungkapkan, salah satu bentuk kerjasama Jepang dengan Universitas Indonesia di bidang kesehatan, dengan membangun Pusat Pengobatan Kanker Hati di Sentul.
“Saat ini memang baru tersedia 100 kamar, namun rencananya pada tahun 2015 akan ada 300 kamar, dengan berbagai perlengkapan yang dikirim langsung dari Jepang. Sementara ini, kami akan menyiapkan para dokter dari Indonesia untuk mendapatkan pelatihan di Jepang, sehingga siap melayani para pasien,” ujar Tanaka. “Kami harap dengan dibangunnya pusat pengobatan kanker hati ini, dapat menekan tingkat kematian akibat penyakit hati.”
Tsuchiya dan Tanaka, merupakan pembicara utama dalam “Medical Excellence Japan Seminar Indonesia-Japan Medical Collaboration”, yang diselenggarakan Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) atas kerjasama Medical Excellence Japan.
Selain Tsuchiya dan Tanaka, hadir juga perwakilan dari perusahaan pembuat peralatan medis di Jepang, seperti Hitachi, Sumitomo Heavy Industry, Toshiba Medical System Corporation, dan Ship Healthcare Holdings, yang mempresentasikan berbagai perlengkapan medis untuk digunakan di Indonesia.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
