Indonesia & Jepang Hadapi Krisis Listrik

(JAKARTA-Indonesia) Selain sampah dan ketegangan politik, ternyata isu kelangkaan energi, khususnya listrik menjadi masalah utama yang dihadapi pemerintah Indonesia dan Jepang dalam beberapa tahun terakhir.


Bencana tsunami dan gempa pada 11 Maret 2011 telah mengakibatkan bocornya reaktor nuklir di Fukushima, dan sempat membuat pemerintah Jepang kewalahan dalam menyediakan pasokan listrik.


Nuklir memang telah menjadi penyedia energi utama di Jepang sejak puluhan tahun lalu, dan hampir seluruh pasokan tenaga listrik Jepang diperoleh melalui pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Namun, bocornya reaktor nuklir di Fukushima mengakibatkan sebagian besar warga Jepang menolak rencana pemerintah untuk menggunakan energi nuklir kembali. Berbagai demo marak terjadi di sejumlah daerah, menentang pengaktifan kembali pembangkit nuklir.



Melihat reaksi ini, pemerintah Jepang mulai mencari energi pengganti tenaga nuklir, salah satunya energi tenaga surya. Sejumlah pihak swasta bahkan berlomba-lomba memproduksi panel surya, yang kemudian dimanfaatkan pemerintah dengan memperkenalkan sistem “feed in” sejak awal tahun 2012 bagi perusahaan penyedia listrik, yakni membeli listrik yang dihasilkan energi terbarukan dari warga atau pihak swasta.


Berbeda dengan Jepang yang menggunakan tenaga surya untuk menyiasati kurangnya pasokan listrik, Indonesia lebih memilih mengembangkan energi panas buminya yang melimpah.


Pertimbangan untuk menggunakan energi nuklir sempat menjadi pembicaraan, bahkan rencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Propinsi Bangka Belitung juga pernah diutarakan. Namun, mengingat kesiapan Indonesia yang masih minim, walaupun telah menjadi anggota Asian Nuclear Safety Network (ANSN), dan banyaknya tentangan dari sebagian besar warga, pemerintah lalu mengambil langkah lain dengan memanfaatkan energi panas bumi.

Meskipun pembangkit nuklir ditentang oleh warga, pada kenyataannya, Indonesia telah memiliki reaktor nuklir di Bandung dengan kapasitas energi mencapai 60 MW dan di Serpong sebesar 2 MW, tapi keduanya memang hanya digunakan untuk kepentingan penelitian semata, bukan untuk sumber energi.


Untuk energi panas bumi sendiri, Pulau Jawa dan Sumatera disebut-sebut sebagai daerah potensial penghasil energi panas bumi terbanyak, dengan 4 kabupaten, yakni Sukabumi, Garut, Bandung, dan Bogor, sebagai penghasil energi panas bumi utama.


Sampai saat ini, total energi panas bumi yang dihasilkan baru mencapai 1,226 MW, namun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan perolehan energi dari pembangkit listrik panas bumi pada periode 2014-2015 sebesar 2,000 MW, sehingga dapat menghemat sekitar 100 ribu barrel minyak setiap harinya.


Hak Cipta © 2013 HALO Jepang! HArian onLine indOnesia - Jepang. Dilindungi oleh Undang-undang