Fadli Zon: Perlu Akuntabilitas Keuangan Politisi Untuk Tekan Korupsi

(JAKARTA) Setelah bertandang ke Jepang pada Februari silam, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengaku mendapatkan banyak manfaat dan pelajaran yang dapat diterapkan di Indonesia, seperti transparansi dalam politik dan jelasnya akuntabilitas catatan keuangan para politisi, untuk menekan maraknya tindak korupsi.



“Contoh penerapan transparansi ini, setiap anggota parlemen harus mempublikasikan seluruh kegiatannya selama satu tahun dengan rinci dan dapat diakses publik. Bahkan catatan keuangan pun dicatat dengan rinci, sampai satuan 1 yen," ujar Fadli dalam kesempatan wawancara, pada Rabu (27/03) silam.



Pria yang juga aktif mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini juga menceritakan kasus bunuh diri seorang politisi Jepang bernama Matsuoka Toshikatsu dari Partai Liberal Demokrat (Jiminto/LDP) yang diduga melakukan tindak korupsi. Matsuoka diduga telah menyelewengkan dana yang diakuinya untuk biaya listrik, padahal acara dilakukan di gedung parlemen dan tidak membutuhkan pengeluaran untuk listrik.



“Matsuoka menjadi bulan-bulanan media dan masyarakat. Meskipun jumlah uang tersebut tidak seberapa, namun Matsuoka merasa malu, dan tidak tahan sehingga memutuskan untuk bunuh diri,” ujar Fadli. “Ini tentunya
dapat menjadi pelajaran berharga bagi politisi Indonesia.”



Kunjungan Fadli ke negeri sakura itu sebagai perwakilan Gerindra dalam memenuhi undangan Kementerian Luar Negeri Jepang (Gaimusho) untuk meningkatkan pemahaman hubungan diplomasi dua negara.

Selain Fadli, turut juga Achsanul Qosasi dari Partai Demokrat, Amalia Yaksa Parijata dari Golkar, Yunandar Rukhiadi Eka Perwira dari PDIP.



Selama kurang lebih seminggu, Fadli beserta perwakilan partai lainnya, mengunjungi sejumlah tokoh dan tempat, diantaranya Sekretaris Parlemen Kementerian Luar Negeri Jepang (Gaimu Daijin Seimukan) Kiuchi Minoru, Museum Edo, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Tokyo (Keidanren),
President National Graduate Institute For Policy Studies (GRIPS) Shiraishi Takashi, serta meninjau kegiatan para anggota parlemen di Majelis Rendah dan Tinggi.



Tidak hanya itu, Fadli beserta rombongan juga mengunjungi perusahaan penghasil daun bawang terkenal di Kyoto, yakni Koto Kyoto.



“Kunjungan ke Koto Kyoto sangat menarik. Kita mungkin pernah mendengar sapi yang diperdengarkan musik klasik seperti Mozart dan Beethoven agar tidak stress dan menghasilkan susu yang baik, namun ini bukan sapi, melainkan daun bawang,” ujar Fadli. “Tapi nampaknya cara ini benar-benar terbukti efektif, Koto Kyoto yang awalnya hanya perusahaan kecil, kini menjadi perusahaan yang terkenal secara nasional dengan omset ratusan juta per bulan.”