Festival Ramayana Nasional Untuk Tingkatkan Minat Terhadap Budaya Tradisional

(Jakarta-Indonesia) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan PT TWC Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko akan menyelenggarakan Festival Ramayana Tingkat Nasional pada 12 hingga 15 Oktober di panggung terbuka Ramayana Prambanan, Yogyakarta, sebagai upaya meningkatkan kembali minat masyarakat Indonesia serta wisatawan asing terhadap budaya tradisional.

PT TWC Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko sejak tahun 1961 telah mempertunjukkan kesenian sendratari Ramayana sepanjang tahun, dengan tujuan melestarikan budaya tradisional sekaligus menarik wisatawan asing, salah satunya Jepang.

Tahun lalu, dari 200 ribu pengunjung Candi Prambanan, 75 ribu wisatawan sengaja datang untuk menyaksikan penampilan sendratari Ramayana, dan 30% nya merupakan wisatawan Jepang. Namun periode kedatangan wisatawan Jepang ke Indonesia terbilang singkat, karena biasanya mereka datang dari Bali atau Jakarta dengan jadwal tur.

“Jepang menjadi negara ke-5 dengan jumlah wisatawan terbanyak di Prambanan. Ada penghargaan budaya antara Jepang dan Indonesia, banyak warga Jepang yang mempelajari budaya atau bahasa Indonesia dan sebaliknya. Kami telah berusaha mempromosikan Candi Prambanan dan Sendratari Ramayana melalui travel dan pameran, sehingga diharapkan dapat menarik minat mereka untuk tinggal lebih lama di Yogyakarta untuk menikmati pertunjukkan”, ungkap Purnomo Siswoprasetjo, Presiden Direktur PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

Purnomo juga menyatakan jumlah wisatawan yang menikmati pertunjukkan sendratari Ramayana mengalami peningkatan dan diperkirakan tahun ini akan bertambah menjadi 85 ribu orang.

Di lain pihak, melihat perkembangan kesenian tradisional Jawa ini di Indonesia, Mendikbud menyatakan prihatin, pasalnya setiap kali pertunjukkan, jumlah pemain lebih banyak dibanding penonton.

Wamendikbud Wiendu Nuryanti berpendapat berkurangnya minat masyarakat terhadap sendratari Ramayana salah satunya karena masalah durasi pementasan dan rasa bosan. Sekali pementasan, sendratari Mahayana dirangkum menjadi 4 babak yang berdurasi sekitar 2 jam.

“ Biasanya setelah 30 menit, pengunjung sudah mulai gelisah, mungkin salah satu tanda-tanda kebosanan. Sehingga dengan festival ini diharapkan dapat mendorong koreografer muda untuk berinovasi dan membuat kreasi baru tanpa menghilangkan nilai dan pesan yang terkandung dalam sendratari Ramayana, dan penonton dapat dibuat terpukau.”, ujar Wamendikbud Wiendu Nuryanti.

Sendratari Ramayana Tingkat Nasional akan menampilkan kreasi baru Ramayana dari 8 provinsi, yakni Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan Selatan yang melibatkan 574 penari.

“Dengan lahirnya kreativitas dan versi baru ini, diharapkan akan menghindarkan kepunahan, kebosanan dan penurunan kualitas para penari Ramayana. Selain itu, ini juga salah satu usaha membawa Ramayana ke taraf yang lebih tinggi”, tambah Wiendu.

Retno Maruti, seniman sendratari Mahayana sekaligus Pendiri dan Pemimpin Sanggar Tari Padnecwara juga menyatakan kegembiraannya atas penyelenggaraan Festival Ramayana Tingkat Nasional.

“Saya kagum dan terharu Kemendikbud membuat kembali sendratari Ramayana. Saya berharap ini akan terus berlanjut dan berkembang di Indonesia khususnya di kalangan generasi muda”, ungkap Retno.

Sendratari Ramayana rencananya akan dipentaskan di panggung terbuka Candi Prambanan agar dapat memperlihatkan kesatuan antara pertunjukkan dengan alam.

“Diharapkan generasi muda juga dapat memanfaatkan cagar budaya, seperti Candi Prambanan sebagai sumber inspirasi karya baru, tidak hanya sebagai objek wisata saja”, tutur Wiendu.

Rencananya, tahun depan Kemendikbud akan menyelenggarakan festival Ramayana berkelas internasional, dan sekarang sudah menghubungi negara-negara yang memiliki sendratari Ramayana, seperti India, Vietnam, Thailand, dan Myanmar. (AV)