Buka Gerai Pertama, Family Mart Siap Bersaing di Pasar Indonesia

(Depok-Indonesia) Family Mart, mini market terbesar ketiga setelah 7-Eleven dan Lawson di Jepang, Selasa (16/10) membuka gerai pertama di Indonesia yang berlokasi di Cimanggis, Depok.

Dengan menggunakan konsep sama seperti mini market lain yang sudah cukup populer, nampaknya Family Mart akan sulit bersaing di Indonesia. Namun, baik Masaaki Kosaka, Managing Director, Managing Executive Officer International Business Division Family Mart di Jepang dan Andre Gunawan, Managing Director PT. Fajar Mitra Indah, pemegang lisensi Family Mart dari Jepang, tidak khawatir, serta menargetkan 500 gerai dalam 5 tahun.

“Kami tidak khawatir kalah bersaing dengan kompetitor lain, karena pasar di Indonesia sendiri masih cukup besar. Keinginan seseorang untuk mengunjungi sebuah mini market, tidak hanya karena barang yang dijual sama dengan tempat lain, tapi tentu dilihat dari segi kualitas, tempat dan pelayanan. Kami ingin membuat Family Mart sebagai tempat yang nyaman dikunjungi baik bersama teman maupun keluarga”, ujar Andre.

Tidak berbeda dengan mini market lain di Indonesia, Family Mart mengusung konsep mini market dan restoran yang menyediakan sejumlah barang-barang kebutuhan sehari-hari, makanan kecil, minuman, serta makanan siap saji dengan fasilitas tempat makan dan jaringan Wifi.

Family Mart pertama di Indonesia juga memiliki perbedaan dengan gerai di Jepang, yakni adanya fasilitas tempat makan di dalam ruangan yang cukup besar dengan dapur mini yang dikelilingi kaca, sehingga pengunjung dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan yakitori (sate ayam a la Jepang) dan ayam goreng yang merupakan salah satu produk unggulan.

“Proses pembuatan yakitori pertama menghabiskan waktu 7 bulan, dari pemilihan bahan yang semuanya menggunakan produk lokal, sampai mencari citra rasa yang dapat diterima lidah masyarakat Indonesia namun diusahakan tidak jauh berbeda dengan rasa aslinya di Jepang”, ungkap Shinri Hisashima, General Manager, Indonesia Project, International Business Division.

Lebih lanjut, Masaaki Kosaka, mengungkapkan keputusan membuka gerai di Indonesia dilihat dari banyaknya jumlah mini market yang belum sebanding dengan jumlah populasinya.

“Dengan populasi Indonesia yang berjumlah sekitar 240 juta, kami tidak khawatir membuka gerai di sini, karena masih banyak pasarnya. Selain itu, di Asia sendiri mini market dengan konsep seperti ini sedang marak”, ujar Kosaka.

Reza, salah satu pengunjung di hari pertama mengutarakan kesannya terhadap Family Mart, “Isinya menurut saya tidak berbeda dengan mini market lain. Tapi di sini barangnya lebih banyak, seperti ada produk untuk rumah tangga misalnya mama lemon dan counter make up. Pertama kali memasuki area parkir, seperti di rest area. Menurut saya, pasti ada saja orang yang datang mencoba melihat-lihat dan mencoba makanannya, namun kalau berani membuat sesuatu yang baru, pasti akan lebih banyak yang datang.”

Berbeda dengan Okabe, warga Jepang yang tinggal di Indonesia mengaku senang mini market Jepang bertambah. Menurutnya makanan yang disajikan agak berbeda dengan rasa aslinya di Jepang, namun dijual dengan harga yang lebih murah dibanding di restoran Jepang.

Di Jepang, Family Mart merupakan salah satu dari 3 mini market terbesar dengan total 8,834 gerai, bertambah 586 dari tahun lalu. Selain itu, Family Mart telah membuka sejumlah anak cabang di Korea, Amerika, Vietnam, Thailand, dan Taiwan dengan total 11,915 gerai.

“Family Mart itu mini market paling besar ke-2 di dunia. Dengan membuka dan menambah gerai di Indonesia, kami berpikir dapat membuka lapangan usaha bagi masyarakat di sini, dengan mencari lokasi dengan target pasar daerah hunian atau tempat yang banyak berkumpul anak muda”, ujar Andre. (AV).