Kebijakan Bank Sentral Berdampak Pasca Kenaikan Pajak
Jumat, 23 May 2014 08:29
(Tokyo) Gubernur Bank Sentral (Nippon Ginko/BoJ) Kuroda Haruhiko menyampaikan keyakinannya bahwa kebijakan moneter ultra longgar memberikan dampak positif bagi perekonomian sebagaimana yang diharapkan, bahkan setelah dinaikannya pajak pertambahan nilai pada 1 April silam.
Bank Sentral memutuskan untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter ultra longgar guna mengatasi deflasi dan tetap dengan pandangan bahwa ekonomi domestik terus pulih dengan memadai, serta menilai penurunan permintaan pasca kenaikan pajak pada 1 April bersifat sementara.
Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (21/05) setelah usainya Rapat Dewan Kebijakan, BoJ menghilangkan kata deflasi, dan hanya menyebutkan bahwa pelonggaran moneter “telah memberikan dampak sesuai dengan rencana awal” dan Bank Sentral akan melanjutkan kebijakanuntuk mencapai target inflasi sepanjang yang diperlukan untuk mempertahankan target itu dengan stabil.
Dalam pernyataan sebelumnya, yang dirilis pada awal April, Bank Sentral menyebutkan kebijakan moneternya “akan mendukung pergerakan positif aktifitas perekonomian, dan pasar keuangan, serta berkontribusi pada kenaikan inflasi, dan mendorong ekonomi Jepang guna mengatasi deflasi yang telah berlangsung selama 15 tahun.”
Dalam konferensi pers di Tokyo, Kuroda menyatakan penilaian mengenai apakah Kepang sudah keluar dari deflasi “membutuhkan peninjauan menyeluruh” terhadap perkembangan ekonomi serta berbagai indikator, namun tidak menjelaskan kapan deflasi akan berakhir.
“Bersesuaian dengan target Bank Sentral untuk mencapai inflasi 2 persen, kedepannya kami akan melakukan pelonggaran kuantitatif dan kualitatif,” ujar Kuroda, yang menambahkan untuk mencapai target bukan hanya masalahnya saja, dan ekonomi harus tumbuh seimbang dengan kenaikan gaji dan penambahan lapangan kerja.
Kuroda juga menghimbau agar dilakukan reformasi struktural dan peraturan seperti peningkatan partisipasi wanita di lapangan kerja guna meningkatkan pertumbuhan jangka menengah dan panjang.
Terkait dengan perkembangan terkini di pasar keuangan, Kuroda menyatakan Bank Sentral tidak akan memasukkan pergerakan pasar mata uang asing dalam pertimbangan untuk memutuskan kebijakan moneter, meredakan spekulasi akan dilakukan langkah pelonggaran moneter tambahan jika nilai yen terus turun.
“Kami tidak akan mempertimbangkan kebijakan moneter dengan merujuk kepada harga saham, dan nilai tukar mata uang asing,” ujarnya.
Namun Kuroda juga menegaskan kembali bahwa Bank Sentral akan mengkaji berbagai resiko terhadap aktifitas ekonomi, dan harga, serta membuat penyesuaian dengan memadai.
Dewan Kebijakan Bank Sentral yang beranggotakan sembilan orang memutuskan dengan suara bulat untuk melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter skala besar yang mulai diberlakukan pada 1 April tahun 2013, dan mempertahankan penilaian mengenai perekonomian selama delapan bulan, “yang terus pulih sesuai tren,” meski terjadi penurunan permintaan sejak kenaikan pajak pada 1 April 2014.
Sementara mengenai investasi modal, Bank Sentral memperbaharui pandangannya dengan menyatakan,”terjadi kenaikan seiring dengan peningkatan laba korporasi” setelah data pemerintah menunjukkan pesanan mesin sektor swasta utama meningkat, yang dinilai sebagai indikator utama untuk belanja modal, naik 19.1 persen pada bulan Maret.
Namun disisi lain menurunkan penilaian terhadap investasi pemerintah, yang “kurang lebih tidak berubah.” Sedangkan mengenai ekspor, Bank Sentral menyatakan hal yang sama.
Rapat Dewan Kebijakan dilaksanakan setelah dirilisnya data ekonomi yang menunjukkan belanja individu turun pada bulan April, pasca kenaikan permintaan menjelang kenaikan pajak pertambahan nilai, namun Kuroda mempertahankan pandangan optimis terhadap ekonomi domestik, meski tingkat pertumbuhan pada bulan April sampai Juni diharapkan menunjukkan penurunan di sektor konsumsi.
“Tren penguatan belanja individu tidak akan berubah sampai membaiknya situasi lapangan kerja dan gaji,” ujar Kuroda, yang menambahkan dampak dari kenaikan pajak pertambahan nilai menjadi 8 persen akan berkurang setelah musim panas.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
