Bank Sentral Pertahankan Kebijakan Moneter Longgar
Jumat, 19 Desember 2014 09:59
(Tokyo) Bank Sentral mempertahankan kebijakan moneter longgar dan penilaian terhadap ekonomi domestik, namun disisi lain meningkatkan sebagian dari evaluasinya pada aktifitas ekonomi dalam rapat kebijakan terakhir untuk tahun ini.
Bank of Japan (Nippon Ginko/BoJ) tetap teguh dengan kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya, meski harga minyak global terus anjlok dan dapat memberikan tekanan lanjutan pada program stimulus ekonomi yang dilaksanakan Pemerintahan Perdana Menteri Abe Shinzo.
Rencananya sebelum mengambil langkah selanjutnya, BoJ akan terus mencermati negosiasi gaji tahunan atau shun to yang akan dimulai pada awal tahun 2015, karena menilai target inflasi 2 persen dapat dicapai jika perusahaan Jepang memberikan persetujuan terhadap kenaikan gaji yang memadai guna mendorong belanja konsumsi dan mengangkat harga.
Di hari terakhir rapat Dewan Kebijakan yang berlangsung dua hari, Dewan memutuskan, dengan delapan suara mendukung dan satu menolak, untuk melanjutkan kebijakan peningkatan uang primer dengan laju tahunan sekitar 80 triliun yen melalui pembelian aset secara masif, dan juga menyatakan perekonomian domestik pulih secara moderat.
BoJ juga meningkatkan penilaian di sektor ekspor dan produksi, serta menyatakan bahwa sudah terlihat tanda-tanda kenaikan pada bidang ekspor dan produksi industri yang mulai mencapai titik terendah.
Sebelumnya BoJ menyatakan ekspor sedang konstan dan masih ada sejumlah kelemahan pada produksi industri.
Bank sentral juga menekankan bahwa investasi perumahan juga sudah mulai marak, ini lebih moderat dibanding pandangan sebelumnya yang menilai investasi di sektor perumahan sudah menunjukkan tanda mencapai titik terendah.
BoJ sudah memutuskan untuk menambah kebijakan moneter ultra longgarnya dalam rapat 31 Oktober silam, dengan hasil suara lima melawan empat suara, guna melakukan upaya tambahan agar target inflasi 2 persen tercapai, dan lesunya belanja konsumen dan turunnya harga minyak menahan laju kenaikan harga.
Meski sektor konsumsi masih dapat bertahan, namun anjloknya harga minyak telah berdampak pada Rusia dan negara lain yang memproduksi minyak, merubah tidak hanya nilai minyak bumi tapi juga nilai mata uangnya.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
BERITA TERKINI
- Suga Umumkan Kabinet Terbaru PM Abe
- Kapten Tim Samurai Biru Kunjungi PAUD & SD di Banda Aceh
- Abe akan Terpilih Kembali Jadi Perdana Menteri
- Kaisar Akihito Harapkan Jepang Maju dengan Damai
- Kyocera Bangun Pembangkit Surya Terapung di Chiba
- PM Abe Targetkan Capai Reformasi Fiskal di Tahun 2015
- Okada Katsuya Ikut Dalam Bursa Pemilihan Ketua Partai Demokrat
- Tiga Bank Besar Terima Penggunaan Kartu ATM Asing Mulai 2015
