Ekspansi Fiskal "Abenomics" Kemungkinan Hambat Ekonomi Jepang


Kebijakan ekonomi Perdana Menteri Abe Shinzo, yang disebut Abenomics, yang mempertahankan ekspansi fiskal sebagai pilar utama rancangan anggaran tahun fiskal 2013, memicu kekhawatiran hutang Jepang yang besar dapat menghambat perluasan ekonomi jangka panjang.


Tidak memadainya komitmen untuk membuat kondisi fiskal terjaga akan mengurangi minat para investor terhadap obligasi pemerintah Jepang, dan menaikkan suku bunga jangka panjang, yang akibatnya akan menurunkan keinginan sektor swasta meningkatkan investasi, dan menghambat pertumbuhan permintaan domestik, ungkap para pengamat.


Kabinet Abe, yang dilantik 26 Desember silam, Selasa (29/01) memberikan persetujuan bagi rancangan anggaran awal senilai 92.61 triliun yen (USD 1.02 triliun) untuk tahun fiskal 2013, dengan target mendorong ekonomi Jepang, melawan deflasi, melalui proyek pekerjaan umum skala besar.


"Tanpa adanya revitalisasi ekonomi yang kuat, maka tidak akan ada rehabilitasi fiskal dan masa depan bagi Jepang," ungkap Abe.


Namun Ekonom Kepala Norinchukin Research Institute Minami Takeshi menyatakan, "Akan sulit bagi pemerintah untuk memulihkan kondisi fiskal hanya dengan melakukan program guna memperbaiki ekonomi domestik, mengingat besarnya hutang pemerintah."


Dengan 46.3 persen dari anggaran awal dibiayai melalui penerbitan obligasi baru, maka hutang yang belum dibayar baik untuk pemerintah pusat dan daerah diperkirakan naik sekitar 4 persen menjadi 977 triliun yen pada akhir tahun fiskal 2013, lebih besar dua kali lipat dari produk domestik bruto Jepang yang sebesar 480 triliun yen.


"Situasi ekonomi Jepang yang bergantung pada permintaan eksternal tampaknya tidak akan banyak berubah," ujar Minami. "Kecuali ekonomi global tumbuh, maka perkembangan reformasi fiskal Jepang kemungkinan besar akan tertunda."


Sementara ekonomi Mitsubishi UFJ Research and Consulting Co Nakata Kazuyoshi menjelaskan, jika kebijakan belanja Abe gagal mendorong ekonomi, hal itu hanya akan menggelembungkan defisit anggaran tanpa adanya kenaikan penerimaan pajak.


Dan jika pemerintah tidak mempunyai rencana rehabilitasi yang handal, maka kesehatan fiskal Jepang dapat semakin memburuk dan suku bunga jangka panjang kemungkinan akan melonjak drastis, papar Nakata.


Sedangkan ekonom kepala Daiwa Institute of Research Kumagai Mitsumaru mengungkapkan, harga obligasi pemerintah untuk jangka waktu 20 tahun dan 30 tahun terus anjlok akhir-akhir ini, yang berarti tingkat suku bunga jangka panjang trennya naik.


"Alasannya karena pemain pasar kian waspada terhadap disiplin fiskal Jepang yang akan dirusak oleh Abenomics," tambah Kumagai.


Lebih lanjut Minami menyatakan, jika suku bunga jangka panjang naik tanpa adanya pemulihan ekonomi, maka perusahaan dan perseorangan akan semakin enggan melakukan investasi atau mengambil pinjaman, yang dapat memberikan dampak negatif terhadap perekonomian.


Kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal Jepang juga dapat memicu kekhawatiran konsumen mengenai masa depan mereka, dan membuat mereka berpikir sebelum membeli produk mahal, menghambat peluang tumbuhnya ekonomi.


"Jika konsumen mulai berpikir pemerintah tidak akan memberikan perlindungan, dampaknya mereka akan

menabung guna melindungi diri sendiri," ujar Yamashita Kazuhito, direktur riset Canon Institute for Global Studies. "Dalam situasi seperti itu, konsumsi dan laba korporasi tidak akan tumbuh, yang akan memperburuk deflasi. Menaikkan belanja publik tanpa disiplin fiskal hanya akan mengakibatkan kondisi ekonomi semakin memburuk."


Sebelumnya Abe telah berjanji untuk mengimplementasikan kebijakan ekonomi yang disebutnya tiga anak panah, yakni kebijakan moneter, strategi pertumbuhan dan belanja fiskal yang fleksibel, melalui proyek pekerjaan umum.


Menurut Kementeriang Keuangan, Belanja proyek pekerjaan umum pada anggaran tahun fiskal 2013 akan naik untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, sekitar 15.6 persen dibanding tahun fiskal 2012 menjadi 5.29 triliun yen.


Pada awal Januari, Kabinet Abe juga memberikan persetujuan atas anggaran tambahan tahun fiskal 2012 senilai 13.1 triliun yen, guna membiayai paket stimulus ekonomi yang merupakan upaya untuk menambahkan 2 persen poin pada produk domestik bruto riil Jepang dan menciptakan 600.000 lapangan kerja baru.


Sementara untuk kebijakan moneter, Bank sentral Jepang (BoJ) dalam pernyataan bersama dengan pemerintah yang dirilis usai rapat dewan kebijakan pekan silam, mengumumkan penetapan pelaksanaan pelonggaran moneter buka-tutup guna mencapai target inflasi 2 persen secepatnya.


Yamashita menilai strategi pertumbuhan, dengan melakukan reformasi peraturan, merupakan hal yang sangat dibutuhkan agar ekonomi Jepang bisa kembali ke jalur pemulihan.

Hak Cipta © 2013 HALO Jepang! HArian onLine indOnesia - Jepang. Dilindungi oleh Undang-undang