Jepang Kucurkan USD 2,821 M Untuk Proyek Infrastruktur
(JAKARTA – Indonesia) Besarnya kebutuhan anggaran pembangunan infrastruktur serta kebutuhan rehabilitasi daerah bencana mendorong pemerintah menjalin kerjasama pembiayaan dengan Jepang untuk 18 proyek, dengan nilai pinjaman USD 2,821 miliar (sekitar Rp28 triliun).
“Umumnya adalah proyek air, dan jalan seperti akses Tanjung Priok, dan sanitasi,” ungkap Menteri PU Djoko Kirmanto seusai menerima kunjungan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Jepang Shigeru Kikugawa di Jakarta, Selasa (29/01).
Meskipun pemerintah berusaha terus menekan pinjaman luar negeri, namun karena kooperatif dengan memberi persyaratan mudah dan murah sehingga kerjasama tetap dilakukan.
Kerjasama terbagi ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga sebanyak tiga proyek, Ditjen Cipta Karya lima proyek, dan paling banyak ada di Ditjen Sumber Daya Air sebanyak 10 proyek. Sebagian besar berupa proyek Sumber Daya Alam (SDA) dan akses Tanjung Priok.
Proyek-proyek yang turut dibiayai pinjaman pemerintah Jepang di antaranya decentralization irrigation system improvement management project in East Region (DISIMP), proyek reduksi dampak bencana Gunung Merapi, rekonstruksi Aceh, Denpasar Sewerage Development Project, dan sanitasi di wilayah Mamminasata di Sulawesi Selatan dan juga akses jalan Tanjung Priok tahap I dan II.
Tak hanya itu, sebagai negara dengan banyak bisnis di Indonesia, Jepang memberi perhatian terhadap kondisi Jakarta dengan menghibahkan beberapa proyek. Hibah Jepang berupa supporting implementation of irrigation asset management, capacity development of Jakarta comprehensive flood management, urgent reconstruction of east pump station for Pluit dan integrated disaster mitigation management for banjir bandang.
Kementerian PU juga terus meningkatkan pengetahuan dengan seminar dan studi banding masalah sewerage (saluran air) dan sistem pengelolaan air di Negeri Sakura. Namun mengenai penanganan banjir karakternya cukup berbeda karena Jakarta kawasan banjir mencapai 40%, jauh lebih parah dari Jepang yang biasanya hanya 10%.
Djoko Kirmanto menambahkan, “Jepang juga sangat peduli dengan masalah banjir dan SDA Jakarta. Kita juga studi banding berbagai masalah, sekarang sedang dihembuskan soal multy purpose deep tunel. Dan di Jepang ternyata tidak ada deep tunel.”
Jika melihat kondisi bencana banjir Jakarta, pertengahan Januari silam, Jepang sebenarnya memiliki kepentingan yang besar dengan kerjasama infrastruktur dua negara. Akibat terendam banjir, tercatat beberapa perusahaan asal Jepang mengalami kerugian karena produksi terhenti dan distribusi terhambat.(BN)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
>> Pencarian
>> Memo Bisnis
| Customer Center Seven Bank Hadirkan Bahasa Indonesia 06/02/2013 |
| artikel lainnya |
>> Sosial & Pendidikan
>> Gaya Hidup & Hiburan
| Paduan Suara Alumni Waseda Gelar Konser di Jakarta 06/02/2013 |
| artikel lainnya |
