“Kekuatan Ketiga” Berjuang Dapatkan Momentum

(Tokyo) Partai politik kecil dan baru berupaya menjadi “kekuatan ketiga” di antara dua partai besar, dan berjuang untuk mendapatkan momentum menjelang pemilihan anggota Majelis Rendah pada pertengahan bulan Desember.


Tidak seperti pada pemilihan anggota Majelis Rendah sebelumnya di bulan Desember 2012, partai-partai yang masuk dalam kategori kekuatan ketiga terlihat tidak lagi mendapat banyak dukungan dari para pemberi suara sebagai alternatif yang layak dan kini bersaing untuk dapat terus hidup.


Pemilihan anggota Majelis Rendah dua tahun silam menjadi pembuka jalan bagi kembalinya Partai Liberal Demokrat (Jimin to/LDP) ke tampuk kekuasaan, setelah sempat dikalahkan Partai Demokrat (Minshu to/DPJ) pada pemilihan anggota Majelis Rendah di tahun 2009.


Dalam pemilihan anggota Majelis Rendah terakhir, partai kekuatan ketiga mendapat perhatian yang lumayan, karena dinilai para pemberi suara sebagai pembawa harapan para pemilih yang merasa dikhianati Partai Demokrat, dan disisi lain masih belum mempercayai LDP.


Namun dalam dua tahun terakhir, kekuatan ketiga telah gagal melakukan penyusunan kembali lanskap politik yang tampak seperti proses tak ada henti untuk pendirian, merger, dan perpecahan partai.


Ambil contoh Minna no to, yang menjadi partai baru dengan perolehan kursi terbanyak dalam pemilihan anggota Majelis Tinggi pada bulan Juli 2010, yang kabar terakhir menyebutkan akan segera membubarkan diri akibat permasalahan internal mengenai apakah akan bergabung dengan LDP atau DPJ, yang merupakan partai oposisi terbesar.


“Keputusan itu sangat disayangkan, mengingat saya menggunakan uang pribadi dan bahkan mengakibatkan saya terlilit hutang,” ujar Watanabe Yoshimi, yang mengundurkan diri dari posisi Ketua Umum Minna no to pada bulan April silam, dalam konferensi pers pada Rabu (26/11) silam.


Minna no to, yang didirikan pada bulan Agustus 2009 dan sempat populer meski dukungan terhadap partai politik terus menurun, rencananya akan dibubarkan pada akhir pekan ini.


Sementara anggota Majelis Rendah Eda Kenji, yang mantan Sekretaris Jenderal Minna no to sebelum berpisah dari Watanabe akibat perbedaan kebijakan, menyatakan dirinya ingin partai barunya “Japan Innovation Party” bergandeng tangan dengan DPJ.


“Kami memiliki pandangan yang sama dengan sejumlah politisi di DPJ dan ingin bekerja bersama untuk menciptakan kekuatan guna menantang LDP,” ujar Eda, yang bersama Walikota Osaka Hashimoto Toru membentuk Japan Inovation Party, dalam pidato pada Rabu silam.


Sebagian besar anggota Japan Innovation Party, partai oposisi kedua terbesar, yang merupakan merger dari Minna no to dan Japan Restoration Party, yang dibentuk Hashimoto.


Karena Japan Innovation Party berupaya menggandeng DPJ, salah seorang anggota seniornya menyatakan momentum untuk menggabungkan partai –partai kekuatan ketiga telah gagal, baik dari segi nama maupun substansi.


Namun sebaliknya, Partai untuk Generasi Masa Depan, partai oposisi ketiga terbesar, telah memutuskan bergabung dengan partai berkuasa demi keberlangsungan hidup partai dan memberi dukungan bagi “Abenomics”, paket kebijakan ekonomi Perdana Menteri Abe yang menggabungkan pelonggaran moneter yang agresif, belanja fiskal dan strategi pertumbuhan.