Politisi Muda Jembatani Kerjasama Sektor Pertanian & Perikanan
Selasa, 16 Juni 2015 10:51
(Jakarta) Prananda Paloh, politisi muda Partai Nasional Demokrat dari Sumatera Utara merupakan keturunan Jepang pertama yang menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, menjelaskan keinginannya untuk memanfaatkan posisinya sebagai politisi guna lebih mempererat hubungan Indonesia-Jepang.
Dalam kesempatan wawancara pada akhir bulan Mei silam, Prananda, yang juga pecinta Jepang dan merupakan anak dari Surya Paloh, Ketua Umum Partai Nasional Demokrat atau Nasdem, terpilih pertama kali menjadi anggota parlemen dalam pemilihan legislatif pada bulan April tahun lalu.
Nenek Prananda dari pihak Ibu berasal dari Prefektur Kyoto, yang masuk daerah Kansai, Jepang Barat, bertemu kakeknya yang berasal dari Indonesia, ketika itu sedang melanjutkan studi di kota yang sama. Selanjutnya keduanya menikah dan menetap sampai ibu Prananda, yakni Rosita Barrack, berusia enam tahun, dan kemudian mereka sekeluarga pindah ke Indonesia.
Menurut Prananda, sebagai keturunan Jepang atau Nikkeijin, dirinya hampir setiap tahun berkunjung ke Kyoto, yang merupakan tempat kelahiran ibunya. “Saya tumbuh dan berkembang dengan kedekatan emosi yang sangat dalam pada Jepang.”
“Sebagai politisi saya ingin meningkatkan kerjasama ekonomi dan teknis dengan Jepang, serta mempromosikan pertukaran budaya antara kedua negara. Saya ingin menjembatani hubungan Indonesia-Jepang,” ungkap Prananda.
Lebih lanjut Prananda memaparkan sejumlah bidang yang strategis untuk masa depan yakni kerjasama dan pertukaran pemuda di bidang pertanian, dan perikanan.
Alasan politisi berusia 26 tahun menekankan kerjasama di bidang pertanian, dan perikanan karena daerah yang diwakilinya di Sumatera Utara masih berpotensi untuk pengembangan di ketiga bidang itu, dan untuk itu sangat membutuhkan kerjasama teknis dari Jepang.
“Kami butuh fasilitas irigasi untuk perluasan lahan pertanian, namun sumber air jauh dari lokasi, selain itu perlu modal untuk membangunnya. Saya pernah dengar mengenai teknik Kazusabori, yang merupakan metode tradisional penggalian sumber air dalam tanpa menggunakan mesin. Jika itu bisa dipakai maka tidak perlu membuat fasilitas irigasi yang panjang,” tambahnya.
Prananda juga menekankan, “Kerjasama bilateral di bidang pertanian dan perikanan harus menguntungkan petani dan nelayan di kedua negara. Karena jika tidak untuk win-win, maka kerjasamanya tidak akan berlangsung lama.”
Selain itu, kerjasama untuk memperkuat hubungan bilateral juga penting dilaksanakan melalui pertukaran pemuda dan bantuan teknis dari Jepang untuk teknologi dan pendidikan.
“Jepang merupakan negara yang terkenal dengan teknologi tingginya, sementara Indonesia kaya bahan baku dan jumlah tenaga kerja serta pasar besar. Untuk memperkuat daya saing industrinya di pasar global, Indonesia butuh bekerjasama dengan Jepang,” kata Prananda.
Ketika ditanya mengenai apa yang paling berkesan mengenai Jepang bagi dirinya, Prananda menyatakan, “Budaya dan alamnya sangat menarik, khususnya Hokkaido yang menjadi lokasi favorit, karena pernah bermalam di penginapan tradisional dan mandi di onsen serta menikmati makanan dengan latar belakang alam yang indah sehingga dapat menenangkan perasaan.”
Lokasi lainnya yakni Okinawa, karena iklim dan budayanya sangat dekat dengan Asia Tenggara, dan suhunya tidak terlalu dingin pada musim dingin sehingga terasa nyaman.
Pada bagian akhir wawancara, Prananda menilai pentingnya budaya Bushi-do sebagai model untuk melakukan revolusi mental. “Semangat Samurai yang sangat mementingkan disiplin perlu untuk diaplikasikan di Indonesia.”
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|

