Perekonomian Menyusut Pasca Pemberlakuan Kenaikan Pajak Konsumsi
Kamis, 14 Agustus 2014 08:02
(Tokyo) Perekonomian Jepang pada periode April - Juni menyusut sebesar 6.8 persen, penurunan paling drastis sejak terjadinya bencana gempa dan tsunami pada Maret 2011, akibat kenaikan pajak konsumsi sebesar 3 persen menjadi 8 persen yang berlaku mulai 1 April silam.
Menurut data yang dirilis Kantor Kabinet Rabu (13/08), laju penyusutan ekonomi yang drastis hampir menyamai penurunan pada periode Januari-Maret 2011 yang sebesar 6.9 persen akibat bencana tsunami, dan lebih tinggi dibanding penurunan sebesar 3.5 persen pasca pemberlakuan kenaikan pajak konsumsi terakhir pada April 1997, yang ketika itu naik dua poin menjadi lima persen.
Angka itu sedikit lebih baik dibanding perkiraan sejumlah pengamat ekonomi, yang memprediksi penurunan menjadi 7.1 persen, namun hasil ini akan mendorong Pemerintahan Perdana Menteri Abe Shinzo dan Bank Sentral (BoJ) mengimplementasikan langkah tambahan guna mencegah agar ekonomi tidak semakin menyusut lebih parah.
Selain itu para pengamat ekonomi menilai, jika Jepang yang saat ini menerapkan kebijakan ekonomi “Abenomics” situasinya terus memburuk, maka hal itu akan mempengaruhi keputusan PM Abe mengenai pemberlakuan kenaikan pajak konsumsi tahap kedua menjadi 10 persen yang dijadwalkan mulai bulan Oktober 2015.
Menteri Kebijakan Ekonomi dan Fiskal Amari Akira dalam konferensi pers usai dirilisnya data Produk Domestik Bruto (PDB) yang memperlihatkan penurunan kinerja ekonomi pada periode April-Juni menyatakan angka itu"Masih dalam perkiraan."
Amari juga menyatakan, prospek ekonomi Jepang masih berpotensi dan PDB diproyeksikan melonjak pada periode Juli-September, mengingat data terkini mengisyaratkan kesiapan perusahaan untuk meningkatkan investasi serta ditambah membaiknya kepercayaan konsumen.
Sementara Perdana Menteri Abe Shinzo menyatakan, pemerintah akan melakukan yang terbaik guna menjamin perekonomian domestik kembali ke jalur pemulihan.
Namun disisi lain, angka-angka yang dirilis Rabu mengisyaratkan ekonomi Jepang tampaknya belum bisa mengatasi dampak negatif kenaikan pajak konsumsi pertama dalam 17 tahun, terlihat dari tidak hanya permintaan domestik yang lesu, tapi juga dari mancanegara.
Sementara belanja konsumen, komponen terbesar yang kontribusinya sekitar 60 persen dari keseluruhan PDB, turun 5.0 persen pada periode April-Juni, setelah sempat naik 2.0 persen pada periode Januari-Maret, membukukan penurunan pertama dalam tujuh kuartal.
Investasi di sektor perumahan turun 10.3 persen, pertama kalinya dalam sembilan kuartal, pasca kenaikan 2.0 persen di periode Januari-Maret.
Sedangkan belanja modal korporasi turun 2.5 persen, yang pertama kalinya dalam lima kuartal, akibat sudah berkurangnya permintaan penggantian karena berakhirnya dukungan bagi sistem operasi Windows XP, ungkap pejabat di Cabinet Office.
Ekspor turun 4.0 persen karena lesunya pengiriman perangkat elektronik, dan impor turun 5.6 persen akibat kenaikan pajak yang mendorong orang mengurangi anggaran belanja pribadi dan produksi industri.
Miyamae Koya, ekonom senior di SMBC Nikko Securities Inc. Menyatakan data PDB yang dirilis Rabu "sangat buruk."
Sementara Makino Junichi, ekonom kepala di SMBC Nikko Securities Inc. mengungkapkan spekulasi kemungkinan bahwa pemerintah akan menyusun anggaran tambahan untuk tahun fiskal 2014 dan Bank Sentral akan melonggarkan kebijakan moneternya lebih lanjut.
Menurut Amari, Pemerintahan Abe belum mempertimbangkan mengambil langkah untuk memulihkan ekonomi, namun pemerintah dan bank sentral akan bergerak dengan melihat situasi terkini dan bergantung pada masa depan perekonomian.
Sementara mengenai apakah Pemerintahan Abe akan menaikan pajak konsumsi sebesar 2 persen tahun depan, Amari hanya menyatakan Perdana Menteri akan membuat penilaian akhir setelah melihat berbagai indikator ekonomi antara bulan Juli sampai September.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
BERITA TERKINI
- Mayoritas Perusahaan Besar Harapkan Ekonomi Tumbuh Sampai Akhir Tahun
- Kafe Berkonsep Binatang Menuai Popularitas
- Gacha Kian Menarik Minat Kalangan Dewasa
- Jumlah Warga Jepang di Mancanegara Lampaui 1.25 juta, Di Indonesia Naik 10%
- Di Perusahaan Jepang, Hanya 6.2% Jabatan Manajer ditempati Pegawai Wanita
- Pemerintahan PM Abe Sediakan 80 Juta Yen untuk Penerjemahan Buku
